Sabtu, 12 Oktober 2013

Hamzah Fansuri dan Ajaran Wujudiyah



Hamzah Fansuri dan Ajaran Wujudiyah di Nusantara
oleh: M.Holil
A.        Pendahuluan
Tasawuf telah exist dan begitu meluas di dunia dimana Islam dikenal. Begitu pula Islam di Nusantara, corak keagamaan yang berkembengan di Indonesia memliki nilai-nila tasawuf, hal ini tidak bisa dihindari karena Islam yang ada di Indonesia berkembang dari daerah Persia, dimana tasawuf berkembang dengan pesat, melalui persia. Di Nusantara, pada saat Islam berkembang dengan pesat, tepatnya pada masa wali songo (antara abad 14-16), penerimaan rakyat Indonesia yang awalnya mayoritas beragama Hindu dan Budha lebih mudah melekat karena para wali songo melakukan penyebaran melalui penerimaan Islam terhadap adat istiadat.[1]
Dengan melekatkan nilai-nilai tasawuf pada adat istiadat rakyat di Nusantara tersebut, maka Islam dengan sangat mudah diterima dan melekat di hati rakyat, namun pada saat itu ajaran tasawuf para wali lebih ditekan pada aspek tasawuf akhlaki (etika), baru pada saat syaikh Siti Jenar ajaran metafisika ketuhanan diajarkan, akan tetapi manunggaling kaula gusti (the Unity of God) yang di ajarkan oleh syaikh Siti Jenar masih belum bisa diterima khalayak ramai, dan bahkan paham wahdat al-wujud-nya dinilai melawan arus[2], selain dilarang oleh wali songo, Islam baru berkembang dan rakyat belum siap menerima ajaran tersebut.
Para wali mengajarkan tasawuf melalui ethika namun estetikanya pun tidak terlupakan, bahkan Sunan Kalijaga pun memasukkan unsur estetika melalui pewayangan, begitu juga Sunan Bonang memalui suluk-suluknya. Nuansa Islam yang indah seperti itulah yang meluluhkan dan mampu menarik perhatian para pembesar kerajaan-kerajaan di Nusantara termasuk juga kerajaan Majapahit dan beberapa kerajaan kecil di Nusantara, dan dengan begitu Para wali tidak menemukan kesulitan dari para pembesar.
Setelah masa para wali, Islam tetap berkembang di Nusantara hingga akhirnya sampai pada masa Hamzah Fansuri yang mampu mengajarkan tasawuf etika, estetika dan metafisika. Ajaran Hamzah Fansuri tidak jauh dari tasawuf yang dikenal di Persia yaitu wujudiyah, karena memang tasawufnya berkembang dari Persia, ajaran Wujudiah yang diajarkan Hamzah Fansuri lebih mudah diterima terutama di Aceh karena memang Hamzah termasuk pembesar kerajaan Aceh, tepatnya pada masa kekuasaan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah pada akhir Abad 16 masehi (1588-1604).
B.        Riwayat Hidup Hamzah Fansuri
Kelahiran Hamzah Fansuri masih termasuk dalam rangkaina misteri yang belum diketahui oleh para peniliti termasuk juga diman tempat kelahirannya, karena memang tidak ada data eksplisit yang menunjukkan tempat dan tahunnya, namun dalam dalam sebuah syair Hamzah Fansuri pernah mengisyaratkan dari mana ia berasal:
Hamzah Nur Asalnya Fansuri
Mendapat wujud di tanah Syahru Nawi
Beroleh Khilafat Ilmu yang ‘Ali
Daripada Abdul Qadir sayyid Jaylani[3]
Dari bait tersebut “mendapat wujud di Tanah Syahru Nawi” secara implisit menjalaskan bahwa Hamzah memiliki fisik sebagai manusia (dilahirkan) di Syahru Nawi, akan tetapi masih ada perselisihan di manakah Syahru Nawi tersebut, ada yang menyebutkan bahwa Syahru nawi adalah “Bandar Ayuthia” Ibu Kota kerajaan Siam, ada pula sejarahwan lain yang berpendapat bahwa Syahru Nawi merupakan nama lama dari tanah Aceh sebagai peringatan untuk mengenang nama Syahru Nuwi yang dating ke Aceh dang membangun Aceh sebelum datangnya Islam di Tanah Aceh.
Namun dari nama belakang Hamzah “Fansur” menunjukkan daerah asalnya, Fansur adalah sebutan orang-orang arab terhadap Barus yang sekarang merupakan sebuah kota kecil di pantai barat Sumatra antara kota Sibolga dan Singkel. Menurut sumber, dari Ptolomeus abad ke-2 SM (salah satu sumber sejarah Yunani) menyatakan bahwa kapal-kapal Athena telah singgah di kota ini sebelum masehi, begitu pula rombongan fir’aun telah beberapa kali singgah di pelabuhan ini untuk membeli kapur barus (kemper), bahan yang sngat dibutuhkan untuk pembuatan Mummi[4].
Hamzah Fansuri adalah seorang pengembara yang telah menjelajahi Timur Tengah Siam, Malaya dan beberapa di Indonesia, di dalam pengembaraanya tersebutlah Hamzah Fansuri mempelajari Tasawauf yang kemudian dia ajarkan di Tanah Aceh. Maka tidak lah heran kalau dalam beberapa karyanya ditulis dalam beberapa bahasa, Arab, Persia dan Melayu, bahkan menurut literature barat, Hamzah dikenal sebagai sosok yang mampu enyesuaikan syair dan pantun untuk mengungkapkan mistisisme yang erotis dari syair-syair Persia. Jadi, sangatlah wajar apabila hamzah menguasai berbagai bahasa dan bahkan sampai pada penguasaan sastranya.
 Hamzah Fansuri selain dikenal sebagai ulama Tasawuf, cendikian, budayawan juga dikenal sebagai pendekar puisi yang syairnya seringkali dikutip oleh para budayawan dan sastrawan terkemuka di Indonesia. Bahkan dalam Majalah Horizon puisi-puisinya seringkali ditampilkan untuk menginspirasi pembaca dan penulis Sastra.
C.        Wujudiyah ala Hamzah Fansuri
Banyak yang menyatakan bahwa Hamzah Fansuri terpengaruh dan juga penganut ajaran tasawuf Persia seperti halnya Abu Yazid al-Bistami, Abu Manshur Al-Hallaj, Ahmad al-Ghazali (adik kandung Abu Hamid al-Ghazali) dan Ibn Araby[5], sehingga bisa dikatakan bahwa paham Wahdat al-Wujud-nya tidaklah jauh berbeda dengan dengan apa yang diajarkan oleh tokoh-tokoh besar Tersebut. Dimana ajaran-ajaran tersebut dia peroleh dari Abdul Karim al-Jili dan beberapa tokoh lain ketika melakukan pengembaraan di Arab dan Persia.
Dalam hal ini Hamzah menuliskan ajarannya melalui Syair indah sebagaimana berikut: 

Tuhan kita yang bernama Qadim
Pada sekalian makhluk terlalu karim
Tandanya qadir lagi hakim
Menjadikan alam dari al-Rahman al-Rahim

Rahman itulah yang bernama Sifat
Tiada bercerai dengan kuhi Zat
Di sana perhimpunan sekalian ibarat
Itulah hakikat yang bernama ma’lumat

Rahman itulah yang bernama Wujud
Keadaan Tuhan yang sedia ma’bud
Kenyataan Islam, Nasrani dan Yahud
Dari Rahman itulah sekalian maujud

Ma’bud itulah yang terlalu bayan
Pada kedua alam kull qawm huwa fi sya’n
Ayat ini daripada Surah al-Rahman
Sekalian alam di sana hairan

Ma’bud itulah yang bernama haqiq
Sekalian alam di dalamnya ghariq
Olehnya itu sekalian fariq
Pada kunhi-Nya tiada beroleh tariq

Hakikat itu terlalu ‘iyan
Pada rupa kita sekalian insane
Ayna-ma tuwallu suatu burhan
Fatsamma wajhu Allah pada sekalian maqan

Insane itu terlalu ‘ali
Hakikat rahman yang maha baqi
Ahsanu taqwimi itu rabbani
Akan kenyataan Tuhan yang bernama subhani

Subhani terlalu ‘ajib
Dari habl al-warid pun Ia qarib
Indah sekali qadi dan khatib
Demikian hamper tiada bernasib

Aho segala kita yang ‘asyiqi
Ingat-ingat akan ma’n insani
Jika engkau sungguh bangsa ruhani
Jadikan dirimu rupa sultani

Kenal dirimu hai anak ‘alim
Supaya engkau senantiasa salim
Dengan dirimu yogya kau qa’im
Itulah hakikat salat dan sa’im

Dirimu bernama khalil
Tiada bercerai dengan Rabb al-Jalil
Jika dapat ma’na dirimu akan dalil
Tiada berguna madzhab dan sabil[6]
Dari syair tersebut sudah jelas bisa dipahami bahwa Menurut Hamzah Wujud Sejati itu satu dalam kesatuannya, karena itu sang Wujud bersifat Mutlak, Karena Dia mutlak maka Dia tidak terbatas, dan Karen dia mutlak itulah makanya terjadi manifestasi atau ta’ayyun. Yang tidak terbatas termanifestasi dalam nama dan sifatnya. Manifestasi tersebut adalah rahman Sang mutlak melalui kehendak-Nya.
Tuhan itu memiliki sifat-sifat terpuji yang diantaranya adalah Karim, Hakim, Rahman dan Rahim, Karena sifat-sifat itulah maka Tuhan maha Agung dan karena Raman-Nya Dia mencipta, sedangkan ciptaannya yang ada dimuka bumi ini adalah jelmaan dari nama-nama dan sifat Tuhan. Namun tetap saja yang wujud itu satu, karena semua termanifestasikan dari Dia, tidak ada keterpisahan antara keduanya. Rahman Tuhan melampaui segala sesuatu, sehingga apapun yang terjadi adalah manifestasi dari rahman-Nya. Tidak ada satupun dari ciptaan-Nya kecuali karena rahman-Nya.
Rahman itulah wujud yang mencipta, maka oleh karena itu ciptaan hanya mempunyai satu jalan kembali yaitu kepada sang pencipta yang telah menurunkan segala agama-agama baik itu agama samawi dan agama ardhi. Dan itu adalah kebaikan dari rahman-Nya sang haqiqi yang real adanya. Karena itulah segala sesuatu bersifat satu.
Namun manusia seringkali melupakan kesatuan tersebut karena terlalu lalai dengan tipuan dunia, dan penglihatannya menjadi ilusi bagi dirinya sendiri. Ilusi tersebut telah membuat manusia lupa akan tujuan kembalinya, sehingga jalan yang dipilih bukanlah jalan yang seharusny. Maka tugasnya manusia untuk menemukan jalan tersebut, namun karena Tuhan maha Rahman maka tuhan akan senantiasa menegor manusia atas kelalaiannya.
Padahal kalau manusia mau berpikir, Penciptann manusia tersebut merupakan wujudnya nyata kehadiran sang Ilahi, makanya Hamzah engingatkan manusia yang merupakan ciptaan paling indah dan sempurna karena manusia memiliki komponen seluruh jagad raya agar kembali padanya dengan menyatakan “aho segala kita yang ‘asyiqi, ingat-ingat akan ma’n insani, jika sungguh engkau bangsa ruhani jadikan dirimu wajah sultani”.
Pernyataan hamzah tersebut merupakan tamparan bagi manusia yang tertipu akan ilusi dunia, agar kembali ke fitrahnya sebagai makhluk ruhani (memiliki sifat ketuhanan) dan agar manusia senantiasa menghiasi diri dengan nilai-nilai keilahian tersebut. Dan andaikan manusia mau kembali maka jalan kembali itu benar nyata karena tuhan bersifat rahim, lagi khalil.
Nah, manusia yang telah lalai dan tidak mau kembali tersebut tetap mendapatkan rahman-Nya akan tetapi tidak akan sampai ada-Nya kecuai orang-orang pilihan yang telah menepuh jalan menuju sang Wujud Hakiki, sang Cinta yang selalu member jalan bag hamba-hambanya.
D.        Karya-karya Hamzah Fansuri
Ajaran Hamzah Fansuri mamu memengaruhi saentero kerajaan aceh dengan mudahnya, karena Dia begitu dekat dengan penguasa ada saat itu, akan tetapi sedikit karya yang dia wariskan ada kita karena karya-karyanya telah di bumi hanguskan oleh al-Raniri, namun demikian ajarannya tetap menginspirasi para pencari kebenaran.
Diantara Tulisannya adalah sebagaimana berikut:
1.       Syair Perahu
2.       Syair Burung Pingai
3.       Syair Dagang
4.       Syair Jawi
5.       Asrar al-‘Arifin
6.       Syarab al-Asyikin (Zinat al-Muwahhidin)
Karangan Hamzah Fansuri yang berbentuk Buku antara lain:
1.         Asrar al-Arifin fi Bayani Ilmi al-Suluki wa al-Tauhid
2.         Syarb la-‘Asyiqin
3.         Al-Muhtadi
4.         Ruba’I Hamzah Fansuri[7]
E.         Penutup
Banyak yang beranggapan bahwa Hamzah Fansuri dari sisi teologinya merupakan salah satu penganut syi’ah, tataran fiqh bermadzhab Syafi’I dan menjadi pengikut Tariqah Qadiriyah, namun demikian Hamzah Fansuri adalah tokoh tasawuf yang memiliki pengaruh besar di Nusantara terutama di Kerajaan Islam Aceh, namun sayang, hanya karena adanya kepentingan politik Nuruddin al-Raniri memerintahkan pennguasa setelah wafatnya Hamzah pada saat itu untuk membakar karya-karyanya.
Penulis berharap dengan adanya penulisan paper ini mampu menginspirasi para pencari kebenaran untuk lebih aktif lagi member sumbangsih dan berpartisipasi aktif dalam mengembangkan tasawuf local, karena Nusantara kaya akan ajaran tasawufnya, dan yang dibutuhkan hanyalah penelitian yg lebih inten untuk membuktikan pada Dunia tentang Tasawuf yang telah lama exist di Tanah Air.
Penulis juga berharap bahwa penulisan ini akan membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi para pencari kebenaran dan tentunya bagi penulis sendiri untuk membangun masa depan yang lebih cerah dengan keilmuan yang inklusif, partisipatif, dialektik, konprehensif dan membawa pencerahan pada masa beikutnya, amien.



[1] Sudirman Tebba, Mengenalkan Wjah Islam yang Ramah, Pustaka Irvan Tangerang Banten, Cet I 2007, hal 13
[2] Drs. Hj. Sri Mulyati, MA, Tasawuf Nusantara; Rangkaian Mutiara Sufi Terkemuka, Kencana Perdana Media Group Rawamangun Cet I 2006, hal 62
[3] Ibid, hal. 79
[4] Abdul Hadi W.M, Hamzah Fansuri; Rislah Tasawuf dan Puisi-Puisinya, Mizan, Bandung cet. I juli 1995, hal 9
[5] Drs. Hj. Sri Mulyati, MA, hal. 75
[6] Abdul Hadi W.M, Hal 24
[7] Drs. Hj. Sri Mulyati, MA, hal 77

Tidak ada komentar:

Posting Komentar